Friday, April 17, 2009

Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Jember

0 comments

Rudi Wibowo Rudi Wibowo, Prof. Dr. Ir. MS.  Lahir di Kebumen, 6 Juli 1952. Menikah dengan Effi Setiawati (48 tahun), pada 6 November 1980, kini Effi Setiawati telah menyelesaikan magister Humaniora di Univeritas Indonesia.  Dikaruniai dua orang putri. Putri pertamanya Arfika Arumastika, 22 tahun, alumnus Teknik Arsitektr ITS Surabaya tahun 2006. Putri kedua, Irfani Irmasanti, lahir di Bogor, 18 tahun, adalah siswi Kelas III SMA Terpadu Krida Nusantara, Bandung.

Masa kecil dilalui Rudi di Yogjakarta, hingga hijrah ke Jember, pada 1972 untuk menempuh pendidikan S1 di Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Jember.  Memulai karir dengan bekerja sebagai dosen tetap di urusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Jember Setelah tamat S1 sebagai lulusan pertama tahun 1978 dari institusi yang sama. Kemudian melanjutkan studi S2 dan S3-nya di Fakultas Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. Magister Sain Ekonomi Pertanian diperoleh pada tahun 1981 dan Doktor Perencanaan Pengembangan Wilayah dan Perdesaan diperolehnya pada akhir tahun 1987. Usai studi S3 dari IPB, diperbantukan di Departemen Pertanian sebagai tenaga ahli, disamping aktif pada berbagai kegiatan profesi, misalnya sebagai tenaga konsultan beberapa proyek seperti Proyek Bank Dunia (Bangun Desa) di Yogyakarta, USAID, Proyek Evaluasi Transmigrasi, Proyek ADB dalam Pengembangan Pendidikan, Proyek-Proyek Kebijakan Pertanian dan sebagainya.

Setelah menjadi dosen teladan Universitas Jember dan salah satu dosen teladan di tingkat nasional pada tahun 1990, lebih banyak mencurahkan waktunya sebagai tenaga ahli Departemen Pertanian. Pada awal tahun 1994 sebagai dosen Universitas Jember diper- bantukan menjadi pejabat struktural eselon II Departemen Pertanian, yaitu Sekretaris Badan Agribisnis. Pada tahun 1997 menjabat sebagai Kepala Biro Tata Usaha BUMN di Departemen Pertanian, dan pada tahun 1998 menjabat sebagai Sekretaris Ditjen Tanaman Pangan dan Hortikultura Departemen Pertanian hingga tahun 2000, pada saat terjadi reorganisasi di Departemen Pertanian. Pada pertengahan tahun 2001 dipercaya sebagai Pembantu Rektor Bidang Kerjasama dan Perencanaan pengembangan UNEJ dan sebagai ketua Tim-Q (tim peningkatan kualitas pendidikan tinggi) UNEJ.

Mengajar dan membimbing mahasiswa, baik mahasiswa S1 dan pascasarjana di UNEJ. Selain itu, pernah mengajar maupun membimbing di Pascasarjana IPB, Pascasarjana ITS, Pascasarjana Unibraw, Universitas Mercubuana, dan perguruan tinggi lainnya. Sebagai guru besar tidak tetap STEKPI, Jakarta. Berbagai kegiatan akademik telah dilakukannya, antara lain seminar-seminar tentang agribisnis, pangan dan sumberdaya, sebagai delegasi pemerintah Indonesia dalam berbagai forum sidang, workshop dan seminar seperti GNB, FAO (KTT Pangan Roma, 1996, PR China, 1999), Asian Productivity Organisation (Jakarta 1996 dan Manila 1999), Second Kennedy Round (Tokyo, 1998), Agribusiness Promotion, Good Governance Programme di Jerman 1998, Agrotourism Programme di University California of Davis (UCD) USA, dan sebagainya. Banyak menulis buku-buku dan jurnal di bidang Ekonomi Pertanian, Pangan dan agribisnis, dan melakukan berbagai penelitian di bidang itu.  Selain itu, berbagai kegiatan keprofesian banyak dilakukan, misalnya dalam keorganisasian  PERHEPI, HIPIPWI, Wisata Agro, GAPPERINDO, Ketenagakerjaan dan lainnya. Penghargaan lain yang diperoleh selain sebagai dosen teladan, adalah sebagai peserta terbaik Diklat SPAMEN di LAN tahun 1996, Satya-lencana Wirakarya dari Presiden RI tahun 1998 dalam pengembangan agribisnis dan Satyalencana Pancawarsa Pinsaka Tarunabumi Nasional Kwarnas Pramuka tahun 1999.

Selain sebagai Guru Besar di UNEJ, saat ini aktif sebagai Sekretaris Jenderal Perhimpunan  Ekonomi Pertanian Indonesia (PERHEPI), Ketua Harian merangkap Deputi SDM Badan Eksekutif Gabungan Asosiasi Petani Perkebunan Indonesia (GAPPERINDO), Ketua Dewan Pakar Pemuda Tani HKTI Jawa Timur, Anggota Dewan Pengurus Yayasan Agro Ekonomika (YAE) dan Pengurus Yayasan Kebun Nusa.  Selain itu, menjadi tenaga ahli di Provinsi Banten dalam menyiapkan RPJMD Banten 2007-2012.

Baca Selengkapnya »»»»»»

Thursday, April 16, 2009

Memahami Proses Pergantian Kulit (MOLTING) Pada Udang

1 comments

Semua golongan arthropoda, termasuk udang mengalami proses pergantian kulit atau molting secara periodik, sehingga ukuran tubuhnya bertambah besar. Agar udang bisa tumbuh menjadi besar, secara periodik akan melepaskan jaringan penghubung antara epidermis dan kutikula ekstraseluler, segera melepaskan diri dari kutikula (cangkang), menyerap air untuk memperbesar tubuh dan eksoskeleleton yang baru dan selanjutnya terjadi proses pengerasan dengan mineral-mineral dan protein. Proses molting ini menghasilkan peningkatan ukuran tubuh (pertumbuhan) secara diskontinyu dan secara berkala. Ketika molting, tubuh udang menyerap air dan bertambah besar, kemudian terjadi pengerasan kulit. Setelah kulit luarnya keras, ukuran tubuh udang tetap sampai pada siklus molting berikutnya.

Dalam kondisi molting, udang sangat rentan terhadap serangan udang-udang lainnya, karena disamping kondisinya masih sangat lemah, kulit luarnya belum mengeras, udang pada saat molting mengeluarkan cairan molting yang mengandung asam amino, enzim dan senyawa organik hasil dekomposisi parsial eksoskeleton yang baunya sangat merangsang nafsu makan udang. Hal tersebut bisa membangkitkan sifat kanibalisme udang yang sehat.

Ekdisis (proses molting) merupakan suatu rangkaian proses yang sangat kompleks yang dimulai beberapa hari atau bahkan beberapa minggu sebelumnya. Pada dasarnya setiap jaringan terlibat dalam persiapan untuk molting yang akan datang, yaitu :

  • Cadangan lemak dalam jaringan hepatopankreas dimobilisasi.
  • Pembelahan sel meningkat.
  • Diproduksi mRNA yang baru, diikuti oleh sintesis senyawa protein baru.
  • Terjadi perubahan tingkah-laku.

Proses yang rumit ini melibatkan kordinasi sistem hormonal dalam tubuh udang. Siklus molting berlangsung melalui beberapa tahapan. Pada beberapa spesies, masing-masing mempunyai tahapan dan definisi sendiri-sendiri. Pada udang ada 4 tahapan, yaitu:

Postmolt, Postmolt adalah tahapan beberapa saat setelah proses eksuviasi (penanggalan eksoskeleton yang lama). Pada tahapan ini terjadi pengembangan eksoskeleton yang disebabkan oleh meningkatnya volume hemolymph akibat terserapnya air ke dalam tubuh. Air terserap melalui epidermis, insang dan usus. Setelah beberapa jam atau hari (tergantung pada panjangnya siklus molting), eksoskeleton yang baru akan mengeras.

Intermolt, Pada tahapan ini, eksoskeleton menjadi semakin keras karena adanya deposisi mineral dan protein. Eksoskeleton (cangkang) udang relatif lebih tipis dan lunak dibandingkan dengan kepiting dan lobster.

Early Premolt, Pada tahapan early premolt (premolt awal) mulai terbentuk epicuticle baru di bawah lapisan endocuticle. Tahapan premolt dimulai dengan suatu peningkatan konsentrasi hormon molting dalam hemolymph (darah).

Late Premolt, Pada tahapan premolt akhir terbentuk lagi lapisan exocuticle baru di bawah lapisan epicuticle baru yang terbentuk pada tahapan early premolt. Kemudian diikuti dengan pemisahan cangkang lama dengan cangkang yang baru terbentuk. Eksoskeleton (cangkang) lama akan terserap sebagian dan cadangan energi dimobilisasi dari hepatopankreas. Ecdysis (pemisahan cangkang) sebagai suatu tahapan hanya berlangsung beberapa menit saja, dimulai dengan membukanya cangkang lama pada jaringan penghubung bagian dorsal antara thorax dengan abdomen, dan selesai ketika udang melepaskan diri dari cangkangnya yang lama. Siklus molting dikendalikan oleh hormon molting yang dihasilkan oleh kelenjar molting yang terdapat di dalam ruang anterior branchium, dan disebut Y - organ.

Baca Selengkapnya »»»»»»

Mengenal Sifat Udang Windu dan Vanamei

1 comments

Dalam budidaya udang windu dan vanamei kita sejogyanya juga mengenal sifat-sifat (fisiologi) dari udang windu dan vanamei tersebut. Berikut dismpaikan beberapa sifat udang windu (Fisiologi Udang Windu-Penaeus monodon) yang perlu diketahui antara lain : Nocturnal yaitu secara alami udang merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau lumpur. Namun di tambak budidaya dapat dilakukan feeding dengan frekuensi yang lebih banyak untuk memacu pertumbuhannya. Kanibalisme, Udang windu suka menyerang sesamanya, udang sehat akan menyerang udang yang lemah terutama pada saat molting atau udang sakit. Sifat kanibal akan muncul terutama bila udang tersebut dalam keadaan kurang pakan dan padat tebar tinggi.

Sifat berikutnya dari udang windu adalah berupa, Pakan dan kebiasaan makan (Feeding behaviour), Udang windu hidup dan mencari makan di dasar perairan (benthic). Udang windu merupakan hewan pemakan lambat dan terus-menerus dan digolongkan ke dalam hewan pemakan segala macam bangkai (omnivorous scavenger) atau pemakan detritus dan karnivora yang memakan krustacea kecil, amphipoda dan polychaeta.

Molting, Udang windu melakukan ganti kulit (molting) secara berkala. Frekuensi molting menurun seiring dengan makin besarnya ukuran udang. Pada stadium larva terjadi molting setiap 30-40 jam pada suhu 280 C. Sedangkan juvenile dengan ABW 1-5 gram mengalami molting setiap 4-6 hari, selanjutnya pada ABW 15 gram periode molting terjadi sekitar 2 minggu sekali. Kondisi lingkungan dan makanan merupakan faktor utama yang mempengaruhi frekuensi molting. Sebagai contoh, suhu yang tinggi dapat meningkatkan frekuensi molting. Penyerapan oksigen oleh udang kurang efisien selam molting, akibatnya selama proses ini beberapa udang mengalami kematian akibat hypoxia atau kekurangan oksigen dalam tubuh. Ammonothelic, Amonia dalam tubuh udang windu dikeluarkan lewat insang.

Untuk jenis Udang Putih (Litopenaeus vannamei) dapat disampaikan bahwa Semula digolongkan kedalam hewan pemakan segala macam bangkai (omnivorous scavenger) atau pemakan detritus. Dari hasil penelitian terhadap usus udang menunjukkan bahwa udang ini adalah karnivora yang memakan krustacea kecil, amphipoda dan polychaeta.

Secara alami L. vannamei merupakan hewan nocturnal yang aktif pada malam hari untuk mencari makan, sedangkan pada siang hari sebagian dari mereka bersembunyi di dalam substrat atau lumpur. Namun di tambak budidaya dapat dilakukan feeding dengan frekuensi yang lebih banyak untuk memacu pertumbuhannya.

L. vannamei membutuhkan makanan dengan kandungan protein sekitar 35%, lebih kecil jika dibandingkan udang-udang Asia seperti Penaeus monodon dan Penaeus japonicus yang membutuhkan pakan dengan kandungan protein hingga 45%. Dan ini akan berpengaruh terhadap harga pakan dan biaya produksi. Pertumbuhan dipengaruhi oleh 2 faktor utama, yaitu : frekuensi molting (waktu antar molting) dan kenaikan angka pertumbuhan (Angka pertumbuhan setiap kali molting).

Kondisi lingkungan dan makanan merupakan factor utama yang mempengaruhi frekuensi molting. Sebagai contoh, suhu yang tinggi dapat meningkatkan frekuensi molting. Penyerapan oksigen oleh udang kurang efisien selam molting, akibatnya selama proses ini beberapa udang mengalami kematian akibat hypoxia atau kekurangan oksigen dalam tubuh. Sering juga secara nyata molting merupakan proses yang mencerminkan tingkat stres pada udang, sehingga para aquaculturist dituntut untuk tanggap terhadap perubahan-perubahan yang terjadi (khususnya penurunan) pada frekuensi molting.

Selama proses molting berlangsung, terjadi terjadi pemecahan kutikula antara karapas dengan intercalary sclerite, dimana pada bagian cephalothorax dan anterior appendages tertarik atau meregang. Karapas baru, yang tumbuh pada saat pertama setelah molting sangat lunak dan makin lama makin mengeras menyesuaikan ukuran tubuh udang.

Frekuensi molting pada L. vannamei menurun seiring dengan makin besarnya ukuran udang. Pada stadium larva terjadi molting setiap 30-40 jam pada suhu 280 C. Sedangkan juvenile dengan ABW 1-5 gram mengalami molting setiap 4-6 hari, selanjutnya pada ABW 15 gram periode molting terjadi sekitar 2 minggu sekali.

Dengan mengenal sifat udang windu dan vanamei, maka diharapkan kita selaku pelaku dalam budidaya udang windu dan vanamei ini dapat memaksimalkan produksi. Semoga

Baca Selengkapnya »»»»»»

Wednesday, April 1, 2009

Morfologi Dan Anatomi Udang Windu Dan Udang Putih

0 comments

Tubuh udang dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian kepala dan bagian badan. Bagian kepala menyatu dengan bagian dada disebut cephalothorax yang terdiri dari 13 ruas, yaitu 5 ruas di bagian kepala dan 8 ruas di bagian dada. Bagian badan dan abdomen terdiri dari 6 ruas, tiap-tiap ruas (segmen) mempunyai sepasang anggota badan (kaki renang) yang beruas-ruas pula. Pada ujung ruas keenam terdapat ekor kipas 4 lembar dan satu telson yang berbentuk runcing.

Bagian Kepala

Bagian kepala dilindungi oleh cangkang kepala atau Carapace. Bagian depan meruncing dan melengkung membentuk huruf S yang disebut cucuk kepala atau rostrum. Pada bagian atas rostrum terdapat 7 gerigi dan bagian bawahnya 3 gerigi untuk P. monodon. Bagian kepala lainnya adalah :

  1. Sepasang mata majemuk (mata facet) bertangkai dan dapat digerakkan.
  2. Mulut terletak pada bagian bawah kepala dengan rahang (mandibula) yang kuat.
  3. Sepasang sungut besar atau antena.
  4. Dua pasang sungut kecil atau antennula.
  5. Sepasang sirip kepala (Scophocerit).
  6. Sepasang alat pembantu rahang (Maxilliped).
  7. Lima pasang kaki jalan (pereopoda), kaki jalan pertama, kedua dan ketiga bercapit yang dinamakan chela.
  8. Pada bagian dalam terdapat hepatopankreas, jantung dan insang.

Bagian Badan dan Perut (Abdomen)

Bagian badan tertutup oleh 6 ruas, yang satu sama lainnya dihubungkan oleh selaput tipis. Ada lima pasang kaki renang (pleopoda) yang melekat pada ruas pertama sampai dengan ruas kelima, sedangkan pada ruas keenam, kaki renang mengalami perubahan bentuk menjadi ekor kipas (uropoda). Di antara ekor kipas terdapat ekor yang meruncing pada bagian ujungnya yang disebut telson. Organ dalam yang bisa diamati adalah usus (intestine) yang bermuara pada anus yang terletak pada ujung ruas keenam.

Baca Selengkapnya »»»»»»

Siklus Hidup Udang Windu Dan Udang Putih

1 comments

Merupakan spesies katadromus, udang dewasa memijah di laut lepas, sedangkan udang muda (juvenile) bermigrasi ke daerah pantai.

Setelah telur-telur menetas, larva hidup di laut lepas menjadi bagian dari zooplankton. Saat stadium post larva mereka bergerak ke daerah dekat pantai dan perlahan-lahan turun ke dasar di daerah estuari dangkal. Perairan dangkal ini memiliki kandungan nutrisi, salinitas dan suhu yang sangat bervariasi dibandingkan dengan laut lepas.

Setelah beberapa bulan hidup di daerah estuari, udang dewasa kembali ke lingkungan laut dalam dimana kematangan sel kelamin, perkawinan dan pemijahan terjadi.

Udang Putih (L. vannamei) dewasa kawin dan memijah pada kolom perairan lepas pantai (kedalaman ± 70 m) bagian Selatan, Tengah dan Utara Amerika dengan suhu 26–28 0C dan salinitas + 35 ppt.

clip_image002

Baca Selengkapnya »»»»»»
 

Copyright 2008 All Rights Reserved